oleh

Telusuri Endapan Lumpur Danau Matano, DLH Luwu Timur Diminta Cari Lembaga Kompeten

-Luwu Timur-113 views

LUWU TIMUR- Wakil Ketua II Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Luwu Timur, Usman Sadik meminta Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Luwu Timur untuk mencari lembaga yang kompeten.

Hal itu terkait endapan lumpur di danau Matano yang menyebabkan air danau Matano menjadi keruh. Danau yang berlokasi di Desa Matano, Kecamatan Nuha, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan.

“Kenapa karena endapan lumpur ini berbahaya, pertama danau Matano itu sudah menjadi destinasi wisata, danau purba, kemudian Matano sudah ditetapkan desa wisata,” ucap Usman Sadik kepada wartawan, Kamis (8/6/2023).

Legislator PAN ini menyebut endapan lumpur yang mencemari danau Matano disinyalir dari limbah PT Vale.

“Ini ramai kemarin diberita, endapan lumpur di danau matano pada saat peringatan hari lingkungan hidup sedunia, dan kita sudah RDP dengan PT Vale dan DLH terkait pencemaran lingkungan danau Matano” tambahnya.

Selain endapan lumpur di danau Matano, Usman Sadik juga meminta menelusuri sungai Malili dan Sungai Lamangka.

“Itu juga sungai Malili apakah ada endapan lumpur sehingga keruh. Muara sungai Lamangka termasuk limpahan limbah PT Vale yang berada disungai Lamangka yang mengalir ke Danau Mahalona melalui Sungai Lamangka,” pungkasnya.

Dilansir dari Inspirasi Timur, Manajemen PT Vale, Bayu Aji mengatakan, insiden tersebut terjadi karena adanya limpasan air permukaan yang berasal dari daerah Langolia melalui GFS, drainase masyarakat dan dibuang ke tanjung Sorowako lama (danau Matano)

Setelah dilakukan pengecekan di lapangan disimpulkan bahwa potensi sumber kekeruhan bukan berasal dari area pertambangan Konde sesuai dengan kunjungan gabungan dan sesuai dengan sampel kekeruhan di area kolam Langolia

Atas kondisi tersebut akan dilakukan investigasi lebih lanjut berdasarkan pelacakan aliran sungai, selain itu telah dilakukan pengambilan sampel air pada aliran limpasan air permukaan. Serta melalukan pemeriksaan kondisi parit perimeter dan drainase Konde untuk memastikan penyebab yang terjadi.

Menurut Bayu Aji, kondisi ini terjadi setelah intensitas curah hujan yang tinggi selama dua hari berturut-turut di daerah tangkapan air di area Langolia (Sorowako).

Komentar